MAKALAH
diajukan untuk
memenuhi salah satu tugas mata kuliah Teori-teori Kepribadian yang diampu oleh
Dr. Mamat Supriatna, M. Pd dan Dra. Chandra
Oleh:
Dila Rahmawati
1506957
DEPARTEMEN
PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN
FAKULTAS ILMU
PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
PENDIDIKAN INDONESIA
2016
DAFTAR ISI
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Teori Maslow merupakan salah satu teori kepribadian yang
terkenal. Pandangannya mengenai manusia membuka Madzhab baru mengenai
kepribadian, yang dikenal dengan Psikologi Humanistik, dan teorinya yang sangat
terkenal yaitu hierarki kebutuhan Abraham Maslow. Pandangannya mengenai manusia
sangatlah postif dan optimis walaupun Maslow memiliki masa lalu yang sulit.
Psikologi humanistik humansitik muncul dengan menghadurkan
gagasn mengenai kepribadian manusia yan berbeda dengan psikologi psikoanalisis
dan behviorisme, yakni yang berupa manusia merupakan makhluk yang bebas dan
bermartabat serta selalu bergerak kearah aktuallisasi diri.
B.
Ruang Lingkup Makalah
Makalah yang berjudul Teori
Humanistik Abraham Maslow membahas mengenai teori huanistik dari Abraham
Maslow, baik itu dari konsep kepribadian, struktur kepribadian, dinamika
kepribadian, implikasi teori humanistik Abraham Maslow bagi bimbingan dan
konseling. Makalah ini juga mencantumkan pemetaan dari teori kepribadian.
C.
Tujuan Penulisan
Tujuan di tulisnya makalah ini ialah diharapkan agar
pembaca maupun penulis dapat memahami teori humanistik serta dapat memahami
perbedaan dari teori-teori kepribadian dari setiap tokoh.
BAB
II
TEORI
HUMANISTIK ABRAHAM MASLOW DAN PEMETAAN TEORI KEPRIBADIAN
A.
Teori Humansitik Abraham Maslow
1.
Biografi
Abraham Maslow
Abraham Harold (Abe)
Maslow dilahirkan dan dibesarkan di Brooklyn, New York, 1 April 1908. Anak
sulung dari tujuh bersaudara. Orang tuanya imigran Yahudi dari Rusia yang tidak
berpendidikan tinggi. Dengan latar belakang pendidikan orang tua Maslow yang
tidak berpendidikan tinggi membuat orang tua Maslow memaksa agar anak-anaknya
dapat mencapai jenjang pendidikan tinggi (Hidayat, 2011, hlm. 164).
Maslow tidak
terlalu dekat dengan salah satu dari orang tuanya, tetapi ia tidak keberatan
dengan ayahnya yang seringkali tidak ada di sampingnya. Ayahnya adalah seorang
imigran keturunan Rusia-Yahudi yang bekera mempersiapkan barel/tong. Akan
tetapi, kepada ibunya Maslow merasakan kebencian dan kemarahan yang besar,
tidak hanya pada masa kecilnya, tetapi juga hingga hari kematian Ibunya yang
hanya berjarak beberapa tahun dari kematian Maslow sendiri.walapun telah
beberapa tahun menjalani psikoanalisis, kebenciannya yang kuat terhadap Ibunya
tak pernah hilang dan ia menolak untuk menghadiri pemakaman Ibunya walaupun
saudara kandungnya yang tidak membenci Ibunya memintanya untuk hadir. Setahun
sebelum kematiannya Maslow menuliskan (dalam Feist
& Feist, 2010, pp. 326:327)
menuliskan pemikirannaya dibuku hariannya:
Apa
yang saya benar-benar benci dan tidak sukai bukan hanya penampilan fisiknya,
tetapi juga nilai-nilai dan pandangan mengenai dunia yang dianutnya,
kepelitannya, keegoisannya, tidak adanya cinta bagi orang lain di dunia, bahkan
bagi suaminya dan anak-anaknya sendiri… asumsinya bahwa orang lain yang tidak
sependapat dengannya telah melakukan kesalahan, ketidakpedulian terhadap
cucu-cucunya, keadaan yang tidak mempunyai teman, kecerobohannya dan
kejorokannya, kenyataan bahwa ia tidak mementingkan keluarganya, bahkan orang
tua saudara-saudara kandungnya sendiri… saya selalu berpikir dari manakah
asalnya ide-ide pemikiran saya, penekanan hal-hal yang etis yang saya miliki, rasa humansime saya, penekanan pada
hal-hal yang baik yang saya miliki, kasih sayang, rasa pertemanan saya, dan
hal-hal lainnya yang ada di diri saya. Saya mengetahuia dengan pasti tentang
akibat langsung dari tidak adanya cint Ibu. Akan tetapi, keseluruhan filosofi
hidup saya dan semua penelitian serta teori saya juga berakar dari kebencian
dan ketidaksukaan terhadap segal sesuatu yang ia (Ibu) yakini (hlm. 958)
Edward Hoffman (
dalam Feist & Feist, 2010, hlm. 327)
melaporkan sebuah cerita yang menggambarkan dengan jelas tentang kekejaman Rose
Maslow. Suatu hari Maslow muda menemukan dua anak kucing yang terlantar di
depan rumahnya. Tergerak oleh rasa kasihan, ia membawa anak-anak kucing
tersebut pulang ke rumahnya, menempatkan mereka di ruang bawah tanah, dan
memberi mereka susu. Ketika Ibunya mekihat anak-anak kucing ini, ia menjadi
sangat marah dan walaupun anak laki-lakinya melihat, ia menendang anak-anak
kucing tersebut ke tembok ruang bawah tanah hingga mereka mati (Feist & Feist, 2010) .
Di sekolah, Maslow
diperlakukan sebagai orang Negro, Maslow pernah berkata, “Aku adalah anak
laki-laki Yahudi kecil di lingkungan non-Yahudi dan sedikit mirip negro yang
mendaftarkan diri di sekolah orang kulit putih” (Hidayat,
2011) .
Sejak kecil,
maslow merasa berbeda dengan orang lain, dia merasa malu dengan kondisi
fisiknya karena memiliki tubuh yang kurus dan hidung yang besar (Hidayat,
2011) .
Pada usia remaja, dia merasakan rendah diri yang sangat dalam (inferiority complex) (Yusuf &
Nurihsan, 2011) .
Dia mencoba untuk mengkompensasinya dengan berusaha semaksimal mungkin untuk
memperoleh pengakuan, penerimaan, dan penghargaan dalam bidang atletik, namun
tidak berhasil. Dia kembali bersahabat dengan buku (Yusuf &
Nurihsan, 2011) .
Menurut Koeswara (1991, hlm. 110) diduga hasrat Maslow untuk
menolong orang lain agar bisa hidup dalam kehidupan yang lebih kaya (lebih
bermakna) timbul dari keinginan Maslow untuk memperoleh kehidupan yang kaya
(lebih bermakna) yang tak pernah ia peroleh di masa mudanya.
Sejak kecil dan
remaja, Maslow sudah senang membaca. Pagi-pagi dia pergi ke perpustakaan yang
dekat dari rumahnya untuk meminjam buku. Apabila berangkat ke sekolah, dia
pergi satu jam sebelum masuk kelas. Selama satu jam tersebut ia pergunakan
untuk membaca buku yang dia pinjam dari perpustakaan (Yusuf &
Nurihsan, 2011) .
Oleh karena
berbakat secara intelektual, Abe atau Maslow menemukan kenyamanan ketika berada
di Boys High School di Brooklyn, dimana nilai-nilai akademisnya menjadi sedikit
tinggi dari nilai rata-rata (Feist & Feist, 2010) . Pada saat yang sama
Abe menjalin pertemanan dengan Will Maslow sepupunya yang juga bersekolah
ditempat yang sama dengan Abe, Will merupakan seorang yang ramah dan aktif
bergaul sehingga melalui jalinan pertemanannya dengan Will, Abe mengembangkan
kemampuan sosialnya dan menjadi tergabung di beberapa aktivitas di sekolah ( Hoffman dalam Feist & Feist, 2010, hlm. 327).
Setelah Abe atau Maslow lulus dari Boys High School, sepupunya Will
mendukungnya untuk mendaftar ke Cornell University, akantetapi Maslow tidak
percayadiri untuk mendaftar (Feist & Feist, 2010, hlm. 327). Oleh karena
itu Maslow memilih City College of New York yang kurang terkemuka. Karena
Ayahnya menginginkan anak lelaki tertuanya menjadi seorang pengacara Maslow
memilih Hukum sebagai bidang stdinya ketika berkuliah di City College of New
York (Feist & Feist, 2010, hlm. 327). Tetapi ia meninggalkan kelas hukumnya
disuatu malam dan meninggalkan semua buku-bukunya dikelasnya. Walaupun pada
awalnya Ayahnya kecewa, tetapi pada akhirnya Ayahnya bisa menerima keputusan
yang diambil Maslow(Feist & Feist, 2010, hlm. 327).
Setelah tiga
semester, ia pindah ke Cornell University di bagian utara New York. Sebagian
alasannya ialah untuk lebih dekat dengan sepupunya Will yang juga berkuliah di
tempat yang sama, dan untuk menjauhkan dirinya dari Bertha Goodman, sepupunya
yang ia cintai (Hoffman dalam Feist & Feist,
2010, hlm. 328).
Setelah menjalani
satu semester di Cornell, Maslow kembali ke City College if New York, kali ini
alasannya untuk lebih dekat dengan Bertha. Ketika Maslow berusia 20 tahun dan
Bertha berusia 19 tahun, mereka menikah setelah mengatasi penolakan dari orang tua
Maslow karena selain mereka masih terlalu dini untuk menikah, pernikahan antar
sepupu mungkin akan menghasilkan kelainan genetis pada anak-anak mereka.
Ketakutan ini merupakan hal yang ironis karena ke-dua orangtua Maslow pun
merupakan sepupu dan mempunyai enam anak yang sehat (Feist & Feist, 2010, hlm. 328).
Satu semester
menjelang pernikahannya, Maslow mendaftar di University of Wiconsin, dimana ia
memperoleh gelar filosofi. Selain itu, karena ia cukup tertarik dengan
pandangan Behaviorisme Jhon B. Watson dan ketertarikannya ini membuat Maslow
mengambil mata-mata kuliah psikologi yang cukup untuk memnuhi persyaratan untuk
memenuhi gelar doktor (Ph.D) dibidang psikologi (Feist &
Feist, 2010) .
Maslow sedemikian tertarik dengan Watson dan meyakini Behaviorisme dapat
menyelesaikan berbagai persoalan. Dengan mengikuti program-program yang
diadakan Watson, Maslow berharap dirinya bisa mengubah dunia. Selain Watson,
tokoh-tokoh yang dikagumi dan ingin diikuti oleh Maslow adalah Koffka, Dreisch,
dan Miklejohn. Namun ketiganya tidak ia jumpai karena mereka hanya guru besar
tamu. Kejadian ini menimbulkan kekecewaan yang besar bagi Maslow. Dan untuk
mengobati kekcewaan dirinya, Maslow kemudian menyusun disertasi doktor di bawah
bimbingan Harry F. Harlow mengenai pelaku primata dan seksualitas. Dia
melakukan penelitian lanjutan di Universitas Columbia. Disana ia bekerja
sebagai asisten Edward L. Thorndike, salah seorang tokoh behaviorisme terkenal (Hidayat,
2011) . Setelah itu, menjadi asociate profesor di Brooklyn College of New York sampai tahun
1951. Ketika mengajar disana ia bertemu dengan Erich Fromm, Alfred Adler, Karen
Horney, antropolog Ruth Benedict, dan tokoh psikologi Gestalt Max Watheimer.
Kedua orang terakhir ialah tokoh yang dikagumi oleh Maslow, baik secara
profesional maupun pribadi. Maslow mulai membuat catatan tentang kehidupan
mereka. Catatan ini kemudian menjadi dasar dari penelitian seumur hidup dan
pemikiran tentang kesehatan mental dan potensi manusia. Maslow menulis secara ekstensif tentang
masalah konsep hierarki kebutuhan, metaneds,
aktualisasi diri, dan pengalaman puncak yang sebenarnya bersumber dari ide dari
psikologi lain, tetapi dengan pertambahan yang signifikan. Maslow menjadi pemimpin
aliran psikologi humanistik yang muncul pada 1950-an, yang ia sebut sebagai
“kekuatan ketiga”- di luarteori psikoanalisis dan behaviorisme.
Maslow menjadi
profesor di Universitas Brandeis tahun 1951-1969, kemudian menjadi anggota
Laughin Institute di California. Dia meninggal karena serangan jantung pada 8
Juni 1970. Pada tahun 1967, Asosiasi Humanis Amerika memberinya gelar Humanist of the Year.
2.
Konsep
Kepribadian
Meskipun
memiliki pengalaman yang buruk namun dalam teorinya Maslow memandang manusia
dengan optimis, memiliki kecenderungan alamiah untuk bergerak menuju kearah
aktualisasi diri. Hidayat (2011, hlm. 165)
mengungkapkan “meskipun memiliki kemampuan jahat dan merusak, tetapi bukan
merupakan esensi dasar dari manusia. Sifat-sifat jahat muncul dari rasas
frustasi terhadap pemenuhan kebutuhan dasar.” Contohnya ketika kebutuhan akan
makanan dan tempat tinggal tidak terpenuhi, maka untuk memenuhi kebutuhannya
dilakukan dengan cara mencuri agar dapat terpenuhinya kebutuhan tersebut.
“Maslow
berpendapat bahwa seseorang akan memiliki kepribadian yang sehat, apabila ia
telah mampu untuk mengaktualisaikan dirinyasecara penuh” (Yusuf & Nurihsan, 2011, hlm. 161). Yusuf dan Nurihsan (2011, hlm. 161) mengemukakan bahwa “Dia
mengemukakan teori motivasi bagi self-actualizing
person dengan nama metamotivation,
meta-needs, B-motivation, atau being
values (kebutuhan untuk berkembang).”
3.
Struktur
Kepribadian
Maslow (dalam
Jaenudin, 2015, hlm. 128) mengungkapkan
bahwa “Manusia di motivasikan oleh sejumlah kebutuhan dasar yang bersifat sama
untuk setiap spesies, tidak berubah dan tidak berasal dari sumber genetis atau
naluriah”. Dapat diartikan bahwa kepribadian manusia bersumber dari motivasi untuk memenuhi kebutuhannya. Menurut
Jaenudin (2015, hlm.139) “Dalam hierarkinya Maslow membedakan antara kebutuhan
dasar (basic-needs) dan kebutuhan
tinggi (meta-kebutuhan atau meta-needs)”.
Kebutuhan dasar
atau kebutuhan konatif adalah kebutuhan yang memiliki karakter mendorong atau
karakter memotivasi (Feist & Feist, 2010) . Kebutuhan dasar
sering juga disebut dengan dengan deficiency
needs atau menurut koeswara (1991, hlm. 128) diartikan dengan motif
kekurangan yaitu yang menyangkut dengan kebutuhan fisiologis dan rasa aman.
Jika individu kekurangan sesuatu atau ia mengalami defisit maka ia akan
merasakan sangat membutuhkan hal tersebut, dan apabila sudah terpenuhi maka ia
tidak akan merasakan apa-apa lagi (Boeree, 2010,
hlm. 254). Sedangkan kebutuhan tinggi atau dalam buku yang ditulis oleh
koeswara (1991, hlm. 128) disebut dengan
metaneeds atau being needs (B-needs)adalah motif-motif yang mendorong
individu untuk mengungkapkan potensi-potensinya. Untuk lebih jelas lagi akan
dibahas pada bahasan berikut:
a.
Kebutuhan Dasar
Maslow (dalam
Koeswara, 1991, hlm. 118) mengajukan gagasan bahwa kebutuhan yang pada manusia
merupakan bawaan, dan tersusun berdasarkan tingkatan yang disebut dengan
hierarki kebutuhan. Dan susunan kebutuhan-kebutuhan dasar yang bertingkat atau
yang disebut dengan hierarki kebutuhan merupakan organisasi yang mendasari
motivasi manusia (Koeswara, 1991, hlm. 119).
1)
Kebutuhan Dasar Fisiologis
Kebutuhan
fisiologis adalah kebutuhan yang paling mendasar dari setiap manusia, termasuk
dialamnya adalah makanan, air, oksigen, mempertahankan suhu tubuh, dan lain
sebagainya (Feist & Feist, 2010, hlm. 332).
Menurut Jaenudin (2015, hlm. 129) kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan yang
paling dasar untuk mempertahankan hidup secara fisik. Apabila seseorang
mengalami kekurangan makanan atau kelaparan, harga diri, dan cinta, ia akan
memburu makanan terlebih dahulu dan mengabaikan kebutuhan lain, sampai
kebutuhan fisiologisnya benar-benar terpenuhi. Perbedaan kebutuhan fisiologis
dengan kebutuhan lainnya menurut Feist dan Feist (Feist & Feist, 2010, hlm.
333) ialah, kebutuhan fisiologis memiliki karakteristik :
a)
kebutuhan fisiologis merupakan
satu-satunya kebutuhan yang selalu terpenuhi. Orang-orang bisa cukup makan sehingga
makanan akan kehilangan kekuatannya untuk memotivasi. Bagi orang yang baru
selesai makan dalam porsi besar, pikiran tentang makanan bahkan dapat
menyebabkan perasaan mual.
b)
Kebutuhan fisiologis memiliki
kekuatan untuk muncul kembali (recurring
nature). Setelah seseorang selesai makan, mereka lama-kelamaan akan merasa
lapar lagi; mereka akan terus menerus mengisi ulang pasokan makanan dan air;
satu tarikan napas akan dilanjutkan oleh tarikan napas berikutnya. Berbeda
dengan kebutuhan-kebutuhan di level lainnya, tidak muncul secara terus-menerus.
Contohnya, orang yang paling tidak telah memenuhi kebutuhan akan cinta dan
penghargaan akan tetap merasa percaya diri bahwa mereka terus memenuhi
kebutuhan mereka akan cinta dan harga diri.
2)
Kebutuhan akan Rasa Aman
Setelah
kebutuhan fisiologis terpenuhi, muncul kebutuhan akan rasa aman yang menuntut
untuk dipenuhi. Menurut Maslow (dalam Koeswara, 1991, hlm. 121) yang dimaksud
dengan kebutuhan akan rasa aman, ialah kebutuhan yang mendorong individu untuk
memperoleh ketenteraman, kepastian, dan keteraturan dati lingkungannya. Maslow
mengemukakan (dalam Koeswara, 1991, hlm. 121) kebutuhanakan rasa aman sangat
nyata dan bisa daiamati pada bayi dan
anak-anak karena ketidak berdayaan mereka. Sebagai contoh seorang bayi akan
memeberi respon ketakutan salah satunya dengan menangis apabila ia tiba-tiba
mendengar suara keras yang mengejutkan. Menurut Koeswara (1991, hlm. 121) kebutuhan
rasa aman dapat berebentuk usaha-usaha untuk memperoleh perlindungan dan
keselamatan kerja, penghasilan tetap atau membayar asuransi. Koeswara (1991,
hlm. 121) menambahkan bahwa agama dan
filsafat oleh sebagian orang dianggap sebagai alat yang bisa membantu mereka dalam
mengorganisasikan dunianya, dan dengan mereka menyatukan diri dengan
nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran agama atau fiksafat yang dianutnya
maka ia akan merasa aman.
3)
Kebutuhan Cinta dan Kasih
Sayang
Setelah
kebutuhan fisiologis dan kebutuhan akan rasa aman terpenuhi, seseorang akan
termotivasi untuk memenuhi kebutuhan akan kasih sayang. Kebutuha kasih sayang
atau menurut Koeswara (1991, hlm. 122) disebut dengan kebutuhan akan cinta dan
rasa memiliki adalah kebutuhan yang mendorong individu untuk mengadakan
hubungan efektif atau ikata emosional dengan individu lain, baik dengan lawan
jenis maupun dengan sesama jenis, baik di lingkungan keluarga maupun di
lingkungan masyarakat. Sebagai contoh, mahasiswa perantauan yang jauh dari
kampung halamannya akan kehilangan ikatan atau rasa memiliki, maka ia
termotivasi untuk membentuk ikatan baru dengan orang-orang atau kelompok yang
ada di tempat merantau. Menurut Jaenudin (2015, hlm. 132) pemusan kebutuhan
akan kasih sayang atau cinta diwujudkan melalui hubungan yang akrab atau
menjalin relasi dengan oranglain.
Maslow (dalam
Koeswara, 1991, hlm. 123) secara tegas menolak pendangan Freud yang megatakan
bahwa cinta dan afeksi itu berasal dari naluri seksual yang di sublimasikan.
Menurut Maslow (dalam Koeswara, 1991, hlm. 123) cinta dan seks adalah dua hal
yang sama sekali berbeda. Maslow (dalam Koeswara, 1991, hlm. 123) juga
menekankan bahwa kebutuhan akan cinta mencakup keinginan untuk mencintai dan
dicintai. Maslow (dalam Koeswara, 1991, hlm. 123) akhirnya menyimpulkan bahwa antara
kepuasan cinta dan afeksi di masa kanak-kanak serta kesehatan mental di masa
depan terdapat korelasi yang signifikan.
4)
Kebutuhan Penghargaan
Maslow (dalam
Koeswara, 1991, hlm. 124) membagi Kebutuhan penghargaan kedalam dua bagian,
yaitu:
a)
penghargaan dari diri sendiri, mencakup hasrat
untuk memeperoleh kompetensi, rasa percaya diri, kekuatan pribadi, adekuasi,
kemandirian, dan kebebasan.
b)
bagian yang kedua adalah
penghargaan dari orang lain, meliputi antara lain prestasi. Individu
membutuhkan penghargaan atas apa yang telah dilakukannya.
Keempat kebutuhan (kebutuhan konatif) yang telah dipaparkan diatas
di sebut oleh Maslow (dalam Boeree, 2010, hlm.
254) dengan sebutan defisit needs (D-needs). Jika individu kekurangan
sesuatu, maka individu tersebut merasa membutuhkan sesuatu tersebut. Tapi
apabila kebutuhan-kebutuhan tersebut telah terpenuhi, kebutuhan-kebutuhan
tersebut tidak lagi mendorong untuk dipenuhi.
5)
Kebutuhan Ilmu Pengetahuan
Kebutuhan
ilmu pengetahuan atau menurut Feist dan Feist (2010,
hlm. 337) Maslow menyebutnya dengan sebutan cognitif needs (kebutuhan kognitf) adalah keinginan untuk
mengetahui, keinginan untuk memecahkan misteri, untuk memahami dan untuk
menjadi penasaran. Menurut Jaenudin (2015, hlm. 134-135) kebutuhan kognitif
dapat diekspresikan melalui keinginan untuk memahami, menganalisis,
mengevaluasi, menjelaskan, mencari sesuatu baru atau suasana baru dan meneliti. Apabila kebutuhan kognitif
tidak terpenuhi menurut Feist dan Feist (2010, hlm. 337) maka semua kebutuhan
pada hierarki kebutuhan Abraham Maslow terancam tidak terpenuhi, karena
pengetahuan merupakan kebutuhan yang sangat penting untuk mengetahui
masing-masing kebutuhan konatif tersebut. Sebagai contoh untuk dapat memenuhi
kebutuhan fisiologis seperti makan, terlebih dahulu ia harus mengetahui
bagaimana cara memperoleh makanan, lalu kebutuhan keamanan akan terpenuhi
apabila mengetahui bagaimana cara membangun rumah, dan seterusnya.
6)
Kebutuhan Estetika
Kebutuhan
estetika berbeda dengan kebutuhan konatif yang bersifat universal, kebutuha
estetika tidaklah bersifat universal (Feist
& Feist, 2010, hlm. 338). Akan tetapi Maslow (dalam Jaenudin, 2015,
hlm.135) menemukan ada beberapa orang
termotivasi oleh kebutuhan akan keindahan begitu mendalam dan pengalaman yang
menyenangkan secara estetis. Menurut Maslow (dalam Jaenudin, 2015, hlm.136)
seseorang yang sehat mentalnya ditandai dengan kebutuhan keteraturan
keserasian, atau keharmonisan dalam setiap aspek kehidupannya, seperti cara
berpakaian yang rapih, menjaga ketertiban lalu lintas dan sebagainya.
Sebaliknya seseorang yang kurang sehat mentalnya, atau sedang mengalami
gangguan emosional dan stres, kurang memerhatikan kebersihan, dan kurang
apresiatif terhadap keteraturan dan keindahan.
7)
Kebutuhan Aktualisasi
Aktualisasi
diri merupakan perkembangan yang paling tinggi dan pengoptimalan semua bakat
individu dan pemenuhan semua kualitas dan kapasitas individu (Schultz dalam
Jaenudin, 2015, hlm. 137). Kebutuhan akan aktualisasi diri mencakup pemenuhan
diri, sadar aka potensi, diri, dan keinginan untuk menjadi sekreatif mungkin (Maslow dalam Feist & Feist, 2010, hlm. 336). Untuk
dapat memenuhi kebuthan aktualisasi, kebutuhan di tingkat rendah harus sudah
terpenuhi. Ketika kebutuhan di tingkat rendah sudah terpenuhi, seseorang secara
otomatis beranjak ke pemenuhun kebutuhan di tingkat selanjutnya (Feist & Feist, 2010, hlm. 335). Akan tetapi setelah kebutuhan kebutuhn akan
penghargaan terpenuhi, orang tidak selalu bergerak ke arah aktualisasi diri (Feist & Feist, 2010, hlm. 335). Menurut
Feist dan Feist (2010, hlm. 335) pada
awalnya Maslow berasumsi bahwa kebutuhan akan aktualisasi diri muncul ketika
kebutuhan akan penghargaan telah terpenuhi, akan tetapi, pada tahun 1960 ia
menyadari banyak dari mahasiswa-mahasiswa di Brandeis dan di kampus lainnya di
seluruh negri telah memenuhi kebutuhan-kebutuhan rendah mereka, termasuk
reputasi dan harga diri, tetapi mereka tidak terlalu berusaha untuk
mengaktualisasikan diri. Menurut Feist dan Feist (2010, hlm. 335) hal tersebut berkaitan dengan apakah orang-orang
tersebut memiliki nilai-nilai B (yang akan dipaparkan di bawah) atau tidak.
Orang-orang yang menjunjung nilai-nilai kejujuran, keindahan, keadilan, dan
nilai-nilai B lainnya akan mengaktualisasikan dirinya setelah kebutuhan akan
penghargaan dan kebutuhan di tingkat lainnya terpenuhi. Maslow (dalam Boeree, 2010, hlm. 258) menyatakan bahwa hanya 2%
dari populasi manusia mampu mngeaktualisasikan dirinya.
b.
Kebutuhan Tinggi
Dalam
hierarki Abraham Maslow dibedakan antara kebutuhan dasar (deficit needs) dan kebutuhan tinggi (being needs). B-needs adalah
kebutuhan untuk aktualisasi diri (Boeree, 2010, hlm.
257). Maslow meenyatakan (dalam Feist
& Feist, 2010, hlm. 343) bahwa orang-orang yang mengaktualisasi diri
termorivasi oleh “Prinsip hidup yang abadi” yang ia sebut sebagai Nilai-nilai B
(being values). Menurut Feist dan
Feist (2010, hlm. 344) nilai-nilai B ini merupakan indikator dari kesehatan
psikologis dan merupakan kebalikan dari D-needs
yang memotivasi orang-orang non-aktualisasi diri. Maslow (dalam Feist & Feist, 2010, hlm. 344) menamakan
nilai-nilai B sebagai “metakebutuhan” (meta
needs) untuk menunjukan bahwa nilai-nilai ini merupakan level tertinggi
dari kebutuhan.
Maslow (Jaenudin, 2015, hlm. 140) mengemukakan
terdapat tujuh belas metakebutuhan, yang apabila tidak terpenuhi akan menjadi
meta-patologi (penyakit kejiwaan). Tujuh belas metakebutuhan yang juga disebut nilai-nilani
B antara lain :
1)
Kebenaran,
dengan meta-patologinya ketidakpercayaan, sinisme, dan skeptisisme.
2)
Kebaikan,
dengan meta-patologinya kebencian, penolakan, kejijikan, kepercayaan hanya pada
untuk diri.
3)
Keindahan
dengan meta-patologinya kekasaran, kegelisahan, kehilangan selera, rasa suram.
4)
Kesatuan,
keparipurnaan, dengan meta-patologinya disintegrasi.
5)
Transendensi-dikotomi,
dengan meta-patologinya pikiran hitam/putih, pandangan salah satu dari dua,
pandangan sederhana tentang kehidupan.
6)
Penuh energi; proses, dengan meta-patologinya mati, menjadi robot,
terdeterminasi, kehilangan emosi dan semangat, kekosongan pengalaman.
7)
Keunikan,
dengan meta-patologinya kehilangan perasaan diri dan individualitas, anonim.
8)
Kesempurnaan,
dengan meta-patologinya keputusasaan, tidak dapat bekerja.
9)
Kepastian, dengan meta-patologinya kacau-balau, tidak dapat
diramalkan.
10)
Penyelesaian;
penghabisan, dengan meta-patologinya ketidaklengkapan, keptusaasaan, berhenti
berjuang dan menanggulangi.
11)
Keadilan, dengan meta-patologinya kemarahan,
sinisme, ketidakpercayaan, pelenggaran hukum, mementingkan diri sendiri.
12)
Tata
tertib, dengan meta-patologinya ketidakamanan, ketidakwaspadaan, kehati-hatian.
13)
Kesederhanaan,
dengan meta-patologinya terlalu kompleks, kekacauan, kebingungan, dan
kehilangan orientasi.
14)
Kekayaan;
keseluruhan; kelengkapan, dengan meta-patologinya depresi, kegelisahan,
kehilangan perhatian pada dunia.
15)
Tanpa
susah payah; santai; tidak tegang, dengan meta-patologinya kelelahan, ketegangan,
kecanggungan, kejanggalan, kekakuan.
16)
Bermain;
kejenakaan, dengan meta-patologinya keseraman, depresi, kesedihan.
17)
Mencukupi
diri sendiri; mandiri, dengan meta-patologinya tidak berarti, putus asa, hidup
sia-sia.
Bagi orang yang telah mencapai aktualisasi diri, tidak terpenuhinya satu
kebutuhan, apalagi beberapa metakebutuhan, akan membuatnya sangat kesakitan,
lebih sakit daripada kematian (Jaenudin, 2015, hlm. 140-141). Seperti yang
dialami oleh beberapa tokoh besar yaitu Socrates, Isa, suhrawardi, Galileo,
lebih memilih mati daripada hidup dala tatanan sosial yang menurutnya tidak
adil (Jaenudin, 2015, hlm. 140-141).
4. Dinamika Kepribadian
Kepribadian
menurut Maslow seperti yang telah disebutkan dalam struktur dan konsep
kepribadian dalam bahasan sebelumnya bahwa Maslow (dalam Koeswara, 1991, hlm.
118) yakin banyak tingkah laku atau kepribadian manusia yang bisa diterangkan
dengan memperhatikan motivasi individu untuk mencapai tujuan-tujuannya yang
membuat kehidupan individu menjadi bermakna dan tercapainya kepuasan. Menurut
Koeswara (1991, hlm. 118) berdasarkan fakta yang ada menyebutkan bahwa jantung
dari teori Maslow ialah proses motivasional manusia terutama dalam rangka
memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Menurut Maslow (dalam Koeswara, 1991, hlm.
118) manusia merupakan makhluk yang tidak pernah berada dalam kepuasan, ketika
satu kebutuhan sudah terppenuhi maka ia akan termotivasi untuk mencapai
kebutuhan di tingkat yang lebih tinggi, begitu seterusnya, sehingga
kepuasan manusai bersifat sementara.
Berdasarkan hal tersebut Maslow mengajukan gagasan bahwa kebutuhan yang pada
manusia adalah bawaan tersusun menurut tingkatan yang disebut dengan hierarki
kebutuhan. Dalam pandangan Maslow (dalam Koeswara, 1991, hlm. 119) susunan
kebutuhan-kebutuhan dasar yang bertingkat itu merupakan organisasi yang
mendasari motivasi manusia, yang menghasilkan dinamika kepribadian. Dan menurut
Maslow (dalam Koeswara, 1991, hlm. 119) kualitas perkembangan individu dapat
dilihat dari tingkatan kebutuhan atau corak pemuasan pada diri individu
tersebut. Semakin individu apat memenuhi mampu memuaskan kebutuhan-kebuthannya
yang tinggi, maka individu tersebut semakin mampu mencapai individualitas,
matang dan berjiwa sehat, begitupula sebaliknya. Feist dan Feist (2010, hlm. 337) mengatakan
“Pemenuhan kebutuhan konatif, estetika, dan kognitig merupakan dasar
bagi tercapainya kesehatan fisik dan psikologis seseorang. Jika
kebuthan-kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, maka akan mengarah pada penyakit”.
Maslow (dalam Feist & Feist, 2010, hlm. 338)
memperkirakan bahwa rata-rata pemenuhan kebutuhan individu dapat mencapai :
fisiologis, 85% ; keamanan, 75% ; cinta dan keberadaan, 50% ; penghargaan, 40%
; aktualisasi diri, 10%. Semakin besar kebutuhan ditingkat rendah terpenuhi,
semakin maka akan semakin besar kemunculan kebutuhan di tingkat sekanjutnya.
Contohnya, ketika kebutuhan akan cinta hanya terpenuhi sebesar 10%, maka
kebutuhan akan pengahargaan mungkin tidak akan muncul sama sekali.
B.
Pemetaan Teori Kepribadian
|
No.
|
Aspek
|
Sigmund
Freud
|
Alfred
Adler
|
Albert
Ellis
|
Erick
Erikson
|
Bandura,
Pavlov, dan Skinner
|
Abraham
Maslow
|
Carl
Rogers
|
George
A. Kelly
|
|
1.
|
Hakikat manusia
|
Manusia merupakan korban dari masa lalu
|
Manusia tidak didominasi dan diarahkan oleh
ketidaksadaran
|
subjek yang sadar
akan dirinya dan sadar akan objek-objek yang di hadapinya
|
Memiliki potensi untuk mengarahkan pertumbuhannya secara sadar
|
Makhluk yang berpikir dan sadar untuk mengatur
tingkah lakunya sendiri.
|
Memiliki kecenderungan alamiah untuk bergerak menuju
aktualisasi diri
|
Memiliki kecenderungan direksional positif yang
kuat.
|
Manusia itu bebas tetapi juga terkungkung
serta mampu memprediksi dan mengontrol fenomena/ tingkah laku
|
|
2.
|
Konsep kepribadian
|
Masa lalu mempengaruhi kepribadian manusia
|
Kepribadian dibentuk dari pemaknaan atas pengalaman
|
Keyakinan irasional dirubah menjadi keyakinan
rasional
|
Kepribadian dibentuk dari pengalaman dan hasil
belajar
|
Koleksi kecenderungan repony yang terkait dengan
berbagai situasi rangsangan yang beragam
|
Kepribadian
manusia dipengaruhi oleh motivasi untuk memenuhi kebutuhannya.
|
Kepribadian bersifat kooperatif dan konstruktif,
sehingga tidak dibutuhkan pengendalian
|
Kepribadian adalah hasil konstruk individu mengenai
peristiwa dan lingkungan.
|
|
3.
|
Struktur kepribadian
|
Id, ego, superego
|
Inferiority, superiority
|
Activating experiences,
beliefs, consequence, disputing, effective
|
Ego kreatif, ego otonomi fungsional, aspek
psikoseksual
|
Modeling dan regulasi diri
|
Kebutuhan dasar dan meta kebutuhan
|
The self, organisme, medan fenominal
|
Similiarity pole, contrast
pole.
|
|
4.
|
Tujuan konseling
|
Membentuk struktur karakter individual dalam diri
klien
|
Menumbuhkan minat sosial dan kesadaran akan reliatas
|
menghilangkan gangguan emosional yang merusak diri
(berdasarkan emotive experiential)
|
Mengoptimalkan ego klien
|
Menciptakan kondisi baru bagi prosese belajar
|
Agar klien memperoleh B-Values
|
Membantu manusia menjadi individu yang sehat dan
mampu mengfungsikan dirinya
|
Mengembangkan konstruk yang lebih baik
|
|
5.
|
Metode/tahapan konseling
|
Analisis mimpi, asosiasi bebas, interprestasi,
tranferensi
|
Konstelasi keluarga, ingatan masa kecil, mimpi,
psikoterapi
|
Layanan konseling RET yang berupa konseling individu
dan kelompok
|
Konseling ego
|
Modifikasi perilaku, pembanjiran, terapi aversi, reinforcement, latihan keterampilan
sosial, kartu berharga.
|
Menghilangkan kebiasaan bergantung pada orang lain
|
Person centered therapy
|
Atmosphere of
experimentation, provision of new elements, dan validating data avaliable.
|
Sumber: (Hidayat, 2011) , (Jaenudin, 2015) , (Yusuf & Nurihsan, 2011) , (Boeree, 2010) , (Pervin, Cervone, & John,
2010)
BAB
III
PEMBAHASAN
DAN IMPLIKASI
A. Pembahasan
Menurut
Koeswara (1991, hlm. 109) terdapat tiga
revolusi yang mempengaruhi personologis modern, yaitu Psikoanalisis,
Behavioristik, dan Humanistik. Abraham Maslow merupakan Bapak Atau pemimipin
dari psikologi humanistik karena menurut Garaham (2005) Maslow dianggap
sebagai pendiri psikologi humanistik karena pandangannya mengenai manusia dan
model kesehatannya membuka bidang baru dalam psikologi yaitu psikologi
humanistik. Menurut Koeswara (1991, hlm. 112) istilah
psikologi Humanistik sendiri oleh sekelompok ahli psikologi pada tahun 1960-an
dibawah pimpinan Maslow yang bekerjasama dalam mencari alternatif dari dua pandangan
psikologi yang berpengaruh atas pemikiran intelektual dalam psikologi yaitu
psikoanalisis dan behaviorisme. Menurut Koeswara (1991, hlm. 112) psikologi humanistik sesungguhnya bukan organisasi
dari teori atau sistem, melainkan lebih tepat disebut dengan gerakan, karena
tokoh-tokoh dalam gerakan humanistik memiliki perbedaan pandangan tetapi
berpijak pada satu konsepsi fundamental yang sama yang berakar pada filsafat
modern yakni filsafat eksistensialisme.
Dalam
memandang manusia menurut Koeswara (1991, hlm.
109) psikologi humanistik menggambarkan manusia sebagai makhluk yang bebas yang bermartabat serta selalu bergerak
ake arah aktualisasi diri apabila lingkungan memungkinkan. Dalam hal ini
bertentangan dengan gambaran manusia menurut pandangan psikoanalisis, Freud
dengan psikoanalisisnya menggambarkan manusia sebagai bentukan dari
naluri-naluri dan konflik-konflik, tingkah laku manusia dikendalikan oleh
kekuatan-kekuatan tak sadar irasional, serta bertentangan pula dengan pandangan
behaviorisme mencirikan manusia sebagai korban yang fleksibel, pasif, dan
penurut terhadap stimulus lingkungan, atau sebagai budak dari ketentuan
lingkungan, sebagaimana yang diikhtisarkan oleh Skinner yang menekankan
kesamaan esensial manusia dengan hewan, dan
menitikberatkan
belajar sebagai ikhtiar utama untuk menerangkan tingkah laku manusia. Dari
pandangan-pandangan tersebut psikologi humanistik lebih optimis dalam memandang
manusia, psikologi humanistik memandang esensi dari sifat dasar manusia
merupakan baik, manusia bukanlah budak dari masa lalu dan lingkungan. Manusia
memilik kecenderungan alamiah untuk bergerak kearah aktualisasi diri, sifat
jahat manusia muncul dari rasa frutasi karena tidak terpenuhinya salah satu
kebutuhan dasar.
Terlepas dari
psikologi humanistik, teori kepribadian
dari Abraham Maslow mempunyai beberapa sebutan, seperti teori humanistik, teori
transpersonal, kekuatan ketiga dalam 1psikologi, kekuatan keempat dalam
psikologi, dan teori aktualisasi diri (Feist
& Feist, 2010, hlm. 325). Akan tetapi, Maslow (dalam Feist &
Feist, 2010) menyebutnya sebagai teori holistik-dinamis karena teori ini
mengenggap bahwa seseorang terus menerus termotivasi oleh satu atau lebih
kebutuhan dan seseorang mempunya potensi untuk tumbuh menuju kesehaan
psikologis, yaitu aktulisasi diri. Untuk meraih katualisasi diri seseorang
harus memenuhi kebutuhan-kebutuhan di level yang lebih rendah atau kebutuhan
dasar, seperti kebutuhan akan lapar, keamanan, cinta dan harga diri atau
pengakuan. Ketika masing-masing kebutuhan dasar sudah terpenuhi, maka mereka
dapat mencapai aktualisasi diri.
Walaupun
Maslow menyebut teorinya dengan sebutan teori holistik-dinamis, akan tetapi
teori Abraham Maslow lebih dikenal dengan sebutan teori humanistik Abraham Maslow
Ini disebabkan karena pendekatan Maslow mengenai
manusia melahirkan psikologi humanistik, yaitu menekankan bahwa potensi manusia
untuk pertumbuhan, kreativitas, dan spontanitas (Hall dalam Jaenudin, 2015,
hlm.141).
B. Implikasi
bagi Bimbingan dan Konseling
1.
Implikasi teori Humanistik
Abraham maslow bagi Bimbingan dan Konseling
Implikasi teori humanistik Abraham Maslow bagi bimbingan
dan konseling ialah menurut Maslow (dalam Hidayat,
2011, hlm. 172) tujan terapi adalah agar klien memperoleh B-values, atau nilai-nilai kebenaranan, keadilan, kesedarahanaan,
dan sebagainya. Untuk mencapai tujuan tersebut, klienharus terbebas dari
ketergantungan pada orang lain, supaya dorongan alami menuju pertumbuhan dan
aktualisasi diri menjadi aktif. Meskipun Maslow bukan psikoterapis, dia
menganggap bahwa teori kepribadiannya dapat diterapkan dalam psikoterapi.
2.
Penelitian Mengenai Teori dari
Abraham Maslow
Penelitian yang berjudul EFEKTIFITAS PENGELOLAAN KELAS yang
dilakukan oleh Andyarto Surjana (2004, hal. 68-81) ini bermaksud
untuk melihat apakah ada hubungan antara motivasi guru dan gaya kepemimpinan
guru terhadap efektivitas pengelolaan kelas secara sendiri-sendiri atau secara
bersama. Penelitian ini dilakukan di SMUK BPU Penabur Jakarta dan Guru SMUK BKU
Penabur Jakarta sebagai objek dari penelitian. Jumlah responden yang
dikutsertakan 60 orang guru SMU Kristen BPK PENABUR di Jakarta yang mengajar
pada tahun pelajaran 1999/2000, sedangkan angket X1 X2 Y 78 Jurnal Pendidikan
Penabur - No.02 / Th.III / Maret 2004 Hasil Penelitian penelitian yang kembali
sejumlah 58 responden. Penelitian ini berlandaskan teori: efektifitas
pengelolaan kelas dari Willford, teori hakekat motivasi dari Abraham Maslow, dan
hakekat gaya kepemimpinan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: pertama,
kontribusi motivasi kerja guru terhadap efektivitas pengelolaan kelas, yaitu
mengkondisikan kelas dengan pendekatan memodifikasi perilaku, memfasilitasi
iklim sosio-emosional, dan memfasilitasi proses dinamika, masih belum optimal,
hanya 37,70 %. Kedua, kontribusi gaya kepemimpinan guru terhadap efektivitas
pengelolaan kelas, juga masih belum optimal (43,10 %), meskipun sedikit lebih
tinggi dari kontribusi motivasi kerja. Ketiga, secara bersama-sama kontribusi
motivasi kerja dan gaya kepemimpinan guru-guru SMU Kristen BPK Penabur di
Jakarta juga masih belum optimal (42,80%).
DAFTAR
PUSTAKA
Boeree, G. (2010). Personality
Theories. (A. Q. Shaleh, Penyunt., & I. R. Musir, Penerj.) Yogyakarta:
Prisma Sophie.
Feist, J., & Feist, G. J.
(2010). Teori Kepribadian (7th ed.). (M. Astriani, Penyunt., &
Handrianto, Penerj.) Jakarta: Salemba Humanika.
Graham, H. (2005). Psikologi Humanistik.
(H. E. Rais, Ed., A. Chusairi, & I. N. Alfian, Trans.) Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Hidayat, D. r. (2011). Teori dan
Aplikasi Psikologi Kepribadian dalam Konseling . Bogor: Ghalia Indonesia.
Jaenudin, U. (2015). Teori-Teori
Kepribadian. Bandung: Pustaka Setia.
Koeswara, E. (1991). Teori-Teori
Kepribadian. Bandung: Eresco.
Pervin, L. A., Cervone, D., & John, O.
P. (2010). Psikologi Kepribadian. (A. K. anwar, Ed.) Jakarta: Kencana.
Surjana, A. (2004). Efektifitas Pengelolaan
Kelas. Jurnal Pendidikan Penabur, 68-81.
Yusuf, S., & Nurihsan, J. (2011). Teori
Kepribadian. Bandung: Rosda Karya.
Komentar